Friday, 14 Aug 2020

Seni Membuat Lilin Tradisional Jepang (Wa-Rousoku)

Seni Membuat Lilin Tradisional Jepang

(Wa-Rousoku)

Oleh Dewi Dimyati

Stress akibat tingginya tekanan dalam kehidupan sehari-hari membuat meditasi menjadi trend terbaru yang digemari oleh masyarakat. Cahaya lilin yang redup dapat menenangkan pikiran selama melakukan meditasi. Dikarenakan larangan membunuh binatang pada pemeluk Buddha, banyak kuil-kuil di Jepang menggunakan lilin cantik yang terbuat dari tanaman yang dikenal dengan Wa-Rousoku. Lilin Jepang sangat terkenal dengan keindahan bentuknya, cahaya yang lembut dan terbuat dari bahan alami. Selain itu, Wa-Rousoku  tahan terhadap hembusan angin dan tidak menimbulkan banyak asap sehingga tidak menimbulkan bercak arang pada ruangan. Tidak seperti lilin barat pada umumnya yang terbuat dari paraffin atau lilin lebah, lilin Jepang atau  Wa-Rousoku seratus persen terbuat dari tanaman yang disebut pohon lilin Haze  (Toxicodendron succedaneum). Pohon Haze dibawah Jepang pada masa Edo dari Okinawa. Wa-Rousokun pertama kali ditemukan pada masa  Muromachi (1336-1573) dan menjadi terkenal di era Edo.

 Bagaimana membuat Wa-Rousoku

Lilin Jepang (Wa-Rousoku) merupakan kombinasi kerajinan tangan dan seni yang indah. Lilin Wa-Rousoku berasal dari pohon lilin Haze. Buah dari Haze yang dihancurkan dan dipanaskan untuk diabil cairan lilin. Cairan lilin dituangkan kedalam wadah untuk membuat kayu lilin yang dikenal dengan sebutan Mokuro.

Sumbu lilin terbuat dari kertas washi (kertas jepang) yang membungkus kayu pegangan. Ilalang lembut dari igusa (tanaman yang biasanya digunakan pada lantai tatami) dililitkan keseluruh washi.

Kayu lilin dipanaskan didalam tungku dan sumbu dimasukkan kedalamnya. Proses ini dilakukan berulang kali hingga lilin mengeras. Pengrajin memegang sebundelan sumbu disebelah tangan dan tangan yang lainnya dicelupkan kedalam lilin. Lilin dioleskan kesumbu dengan tangan, proses ini dikenal dengan nama shitagake. Shitagake diulang beberapa kali hingga memperoleh ketebalan lilin yang diinginkan. Tahapan terakhir dalam pembuatan Wa-Rousoku adalah mengecat lilin. Wa-Rousoku biasanya dicat merah atau putih, akan tetapi untuk acara-acara khusus seperti pernikahan,lilin dicat dengan warna emas dan pemakaman, lilin dicat dengan warna perak.

Pengenalan Budaya dengan Workshop Wa-Rousoku

            Meskipun harga Wa-Rousoku tergolong mahal, tidak begitu banyak pengrajin lilin  yang masih aktif. Nakamura Rousoku, salah satu pengrajin terkenal yang telah membuat lilin jepang sejak tahun 1887. Akhir pekan ini kami berkesempatan untuk mengunjungi pabrik lilin dan melukis lilin di Takeda. Pabrik lilin dan toko dapat diakses 3 menit jalan kaki dari stasiun Takeda.

Pada kunjungan di pabrik, pengrajin menunjukan proses pembuatan lilin dan melukisnya. Banyak pengrajin  melukis lilin dengan gambar-gambar yang indah seperti bunga, dewa-dewa, binatang, bangunan bersejarah dan sebagainya. Harga Wa-Rousoku bervariasi dari 1000 hingga lebih dari 50000 yen. Wa-Rousoku dengan lukisan dewa Fujin Raijin –zu (dewa angin dan dewa petir) yang dilukis oleh seniman Kyoto mencapai harga 54000 yen per batangnya.

Tur berlanjut ke tempat workshop dimana kami dapat melukis lilin. Workshop ini menyediakan lilin, cat khusus, kuas, buku motif untuk setiap peserta. Acara melukis bisa sekitar 30-60 menit tergantung tingkat kesulitan motif  gambar yang dipilih.Peserta dapat membawa pulang lilin yang telah dilukis beserta kotaknya pada akhir tur dan workshop.

Harga tur per orang 2000 yen untuk mengunji pabrik lilin dan workshop melukis lilin. Untuk memesan tur dan betanya anda menghubungi bapak Fujisaki di Piers’ n’ Peers dengan mengirim email ke info@pia2.org.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CAPTCHA